Wednesday, 23 November 2011

Dah Menang Emas tapi Masih Nak Mengutuk!




Disebabkan kita masih lagi merasai kehangatan emas bola sepak di Sukan Sea, aku pun tak mahu melepaskan peluang untuk mengupdate pasal bola ni jugak. Tapi sebelum itu, aku nak nasihatlah sikit kepada kawan-kawan blogger mahupun twitter yang nak melontarkan pandangan atau komen, pleaselah jangan mengutuk melampau-lampau. Itu bukan caranya. Dah menang kita seharusnya bersyukur dan berterima kasih kepada pemain-pemain Harimau Muda. Tak payahlah nak mengutuk melampau-lampau sampai nak buat entri bukan-bukan untuk pemain berkenaan. Ye, aku tahu ada yang perform tak begitu memuaskan tapi itu mungkin di luar keupayaan dia pada ketika itu. Perasaan lain-lain, tekanan yang di ambik pun lain-lain. So, kita perlulah fahami mereka.

Kita senanglah duduk atas kerusi sambil hisap rokok sambil makan kacang, update twitter sambil tengok match dari view atas kat stadium tu. Padang tu macam sempit je kan. Diorang yang duk main tu dahlah dapat boo, letih lagi, jatuh la, macam-macam lagi. Kita kerja duk mengutuk je tak habis-habis. Marah tu memang marah, tapi sabar la, tak payah nak sumpah seranah berbaur lucah dan masuk blog bagai. Ish, tak matanglah. 

Okeylah, aku sebenarnya nak share pasal satu blog dari penulis Indonesia yang mengulas isu tentang kekalahan team Indonesia. Bacalah. Memang bagus entri dia. Tapi dalam bahasa Indonesialah. Korang mesti faham kan sebab banyak tengok sinetron yang berlambak-lambak kat tv sekarang ni kan siap ngan Indo Pek lagi.


Timnas Tolong Hilangkan Kebencian dan Dendam 
Sepulang dari kantor kemarin, saya menyaksikan suatu fenomena yang luar biasa, trotoar-trotoar jalan penuh oleh kendaraan bermotor yang diparkir. Si empunya motor asyik nglesot di lesehan pinggir jalan yang dipasang layar tancap. Cafe-cafe penuh dan jalanan lenggang, Garuda muda akan melawan Harimau Malaya. Pertandingan sarat emosi, dendam kesumat dan kebencian. Teriakan-teriakan Malingsia dan Ganyang Malaysia bergema. Warna merah mendominasi pandangan mata, di udara sangat terasa hawa keoptimisan bercampur kebencian pada negeri Jiran. Inilah final impian dimana mayoritas masyarakat Indonesia sangat ingin melihat pasukan Garuda Muda menjungkalkan Harimau Malaya. 

Pertandingan pun berlangsung, decak kagum bergumam melihat kecepatan para pemain garuda muda khususnya para pemain-pemain dari pulau Papua. Dan gol cepat pun terjadi, suasana menjadi riuh rendah, teriakan gol bergaung, rasa puas merasuk ke jiwa penonton. Lalu penantian gol kedua pun bergelora, detik demi detik, menit demi menit tapi gol kedua yang ditunggu tak kunjung datang, malah pasukan Harimau Malaysia mampu menyamakan kedudukan. Serangan dari tuan rumah tak berhenti, umpatan dan cacian silih berganti menemani pertandingan. Wasit, hakim garis, pemain, pelatih lawan tak lepas dari hinaan dan umpatan. Hingga beberapa gol yang diciptakan tak mendapat pengesahan makin tinggi tensi permainan makin gemes penonton. Pertandingan normal berakhir, perpanjangan waktu, dan akhirnya adu Tos-tos an dilakukan. Disinilah mental diuji dan Garuda Muda terbukti belum mampu menunjukkan mental juara. Malaysia pulang ke kandang mereka dengan kepala tegak, kalungan medali Sea Games yang dirindukan oleh warga Indonesia selama 20 tahun dibawa ke Kuala Lumpur. 

Ada apa sebenarnya? Kenapa Indonesia selalu kalah dengan Malaysia di partai puncak? Banyak yang beranalisis tentang masalah teknis seperti teknik, team work, mental dan lain-lain. Tapi saya mencoba menganalisis dengan cara lain. Kenapa Indonesia tidak bisa mengalahkan Malaysia di GBK? Jawabannya adalah karena motivasi Indonesia untuk menang adalah motivasi kebencian dan dendam. Seperti diketahui benci dan dendam adalah dua energi yang sangat NEGATIF. Maka begitu berkumpul di stadion yang penuh dengan aura kebencian dan dendam energi negatif itu terakumulasi besar sekali. Dan percaya atau tidak energi negatif itu akan menular ke dalam lapangan. Dan permainan pun kacau sekali, ditambah seluruh stadion yang menyumpah serapah i negara lawan. Maka doa yang didasari oleh energi negatif tidak akan sampai dan diterima oleh Tuhan. Justru doa penonton Malaysia yang datang ke GBK dikabulkan. Kenapa? Karena mereka termasuk orang-orang yang teraniaya,sebagai tamu mereka bukannya dihormati tetapi malah disumpah-serapah. Padahal mereka belum tentu salah, maka saat mereka berdoa meminta kemenangan, dengan cepat Tuhan mengabulkan. Doa orang-orang teraniaya lebih makbul. 

Oleh karena itu marilah kita luruskan niat, saat pertandingan olahraga tidak perlu membawa kepentingan politik dan membawa kebencian di lapangan. Bertandinglah untuk menghibur, untuk mencapai prestasi karena ingin mengharumkan nama bangsa tanpa menginjak martabat bangsa lain. Bukankah seorang pemenang sejati itu adalah mereka yang “Menang tanpa kesombongan dan kalah tanpa banyak alasan”. (22/11/11)
sumber: KOMPASIANA






1 comment:

  1. aku dah baca dah yg post dari writer indonesia tuh...sangat terkesan kat hati..

    sbb tu aku x post langsung pasai bola kat fb or blog...

    nnti org mai tumpang sekaki dok bagi komen negative x ka aku pun tumpang sekaki dapat dosa..=)

    ReplyDelete